Dhuaarr…!!

Siang ini, timeline twitter saya ramai berita bom di Solo. Untunglah saya memfollow beberapa akun berita mainstream yang biasa mem-blow up berita yang merugikan pihak minoritas. Ketika kejelasan bom masih dipertanyakan, dari pelaku hingga motif sampai tulisan ini saya buat, belum ada keterangan apa pun. Twitter tiba2 ramai dengan rituit hadits2 bom bunuh diri adalah haram, bom bunuh diri masuk neraka, Islam agama damai, Islam melarang pembunuhan. Apa yang dipikirkan orang-orang itu sebenarnya? Ketika mendengar gereja dibom, jujur saja yang terlintas pertama kali di kepala saya bukan “pasti muslim nih yang dituduh” tapi terlintas “pasti mereka mengambil kesempatan untuk menggiring opini dan menuduh jihadi lagi”. Itulah yang pertama kali terlintas. Belum selesai di situ, walikota Solo di televisi berbicara tentang kerukunan agama. Hey, apa sudah jelas motif bom bunuh diri karena agama? Identitas pelaku saja masih dipertanyakan, apalagi motif. Tambah lagi, ketika saya mencari2 berita di situs2 muslim yang ada dihadapan saya justru berita pemboman Masjid di Mardika, Ambon semalam. Tapi media mainstream tidak mengangkat berita ini.

Baiklah, saya akan membahas masalah bom ini dengan kacamata saya. Yang pertama, tentang pelaku dan motif. Sudah jelas ini yang paling tidak jelas. Bisa saja pelaku adalah intelejen, bisa saja pelaku adalah orang yang sudah didoktrin intelejen kan? Atau mungkin pelaku adalah jema’at gereja yang merasa kecewa dengan pihak gereja. Bisa saja pelaku bukan muslim! Demi Alloh, pelaku yang melakukan bom bunuh diri itu belum jelas. Tapi, yang muslim sangat2 berisik, seolah sudah ketahuan bahwa pelakunya adalah muslim. Mereka mengutuk dan ‘berfatwa’ bahwa bom tidak sesuai dengan ajaran Islam, bahwa bunuh diri akan masuk neraka. Saya sepakat, JIKA bom bunuh diri itu dilakukan karena pelakunya berputus asa. Tapi saya tidak sepakat jika bom bunuh diri dilakukan dalam rangka istisyhad. Hanya saja (jika memang pelaku adalah muslim), yang menjadi masalah adalah perbedaan khilafiyah dalam masalah memerangi musuh. CATAT! KHILAFIYAH! Artinya keputusan membom tempat ibdah orang kafir itu merupakan ijtihad pribadi dari pelaku. Salah atau benar hanya Alloh yang tahu. Saya gak bisa menyalahkan pelakunya. Toh saya disini hanya duduk2 saja, sedangkan ia sudah mengaplikasikan ilmunya. Menurut saya, itulah bukti keimanan pelaku (jika pelaku adalah muslim). Jangan lupa, beberapa jam sebelum terjadi pemboman Solo, kota Mardika Ambon sebuah masjid juga di bom. Dari info yang saya dapatkan ada korban tewas juga. Media? Bullshit! Kita yang belum tahu apa2 sudah menuduh yang tidak2 bahkan mengutuk juga, demi keamanan, Indonesia damai katanya? Wodehel! Mata kalian buta atau hati kalian yang buta? Lupakah dengan kewajiban qishosh? Darah dibayar dengan darah, nyawa dibayar dengan nyawa. Apa yang di Ambon itu bukan saudara muslim kalian? Ngakunya sebagai muslim satu tubuh! Wodehel! Saksikanlah, buka mata dan hati lebar-lebar. Perang itu NYATA, Ayat2 perang itu ADA! Saya sampai tertawa sendiri ketika seorang antek demokrasi bilang Islam itu agama damai, Islam melarang perang. Lupakah dia dengan berjubelnya ayat2 perang? Atau yang dipikirkan hanya urusan poligami saja? Urus dulu aqidahmu tuan antek democrazy! Lebih lucu lagi mereka yang mengatakan Islam agama damai. Buatku Islam adalah agama yang adil. Ada waktunya damai, ada waktunya perang.

Yang kedua, tentang hadits2 yang beredar di twitter bahwa bom bunuh diri masuk neraka. Pernyataan itu tidak salah, hadits itu shahih. Tapi sekali lagi, itu masalah khilafiyah. Saya tidak bisa bicara banyak dan ingin sekali lebih memilih diam. Tapi mereka sangat berisik. Jika pelakunya memang muslim, saya akan hargai caranya dan tidak bisa berkomentar banyak, seperti yang saya lakukan ketika bom cirebon dahulu. Saya bukannya mendukung aksi tersebut, tapi tidak baik rasanya mencela mereka yang bersungguh2 dengan diennya. Biarkan saja, biarkan Alloh yang menilai dan hendak menempatkan dimana pelaku pemboman tersebut. Sampai disini, saya teringat beberapa kajian dahulu bahwa kita kurang sekali memahami karakter wilayah amaliah jihadi kita. Hal ini akan berpengaruh lebih besar mana mashlahat dan mudhorotnya untuk Islam kedepan? Pertimbangan seperti inilah yang tampaknya kurang matang ketika aksi2 bom bunuh diri dilakukan di Indonesia oleh kalangan jihadi, dan lucunya sebagian jihadi mencela sebagian yang lain. Tidak adakah sikap legowo dan menerima keputusan saudaranya untuk aksi? Saya sungguh sangat tersakiti melihat kelakuan saudara-saudara saya yang seperti itu.

Yang terakhir adalah peran media. Betapa suksesnya media membakar emosi masyarakat. Dan betapa bodohnya masyarakat termakan isu media. Tempo hari saya pernah nyinyir bahwa pemberitaan kericuhan Ambon dengan dibakarnya Masjid Al Ikhlas di Medan sangat tidak seimbang, HKBP Bekasi dan gereja Yasmin di Bogor sukses diangkat di masyarakat bahwa kristen tidak salah, umat muslimlah yang menekan mereka (kata berita mainstream sih gitu), padahal kenyataannya justru sebaliknya. Cover both side adalah salah satu istilah yang cukup familiar di dunia jurnalistik. Secara sederhana bisa saya artikan, meliput dari dua sudut pandang yang berbeda/berlawanan. Dan itu yang dilakukan media kristen, media Islam sebagian benar2 berjuang tapi ada pula yang tergelincir karena hanya meng-copast info dari media kristen. Ini sangat disayangkan. Karena media Islam harusnya menjadi corong umat. Titik. Yang lain nomor sekian. Saya kadang2 bertanya-tanya apa mereka yang muslim dan bekerja di media kafir tidak dilema atau tidak merasa tersentuh ketika Islam sedemikian difitnah tapi mereka bagai kerbau dicocok hidungnya, menuruti atasan, menuruti nafsu, semakin jauh dari keimanan. Wallohu a’lam.

Sempat terpikir dikepala saya bahwa ini adalah salah satu produk pengalihan isu yang entah keberapakalinya dilakukan oleh esbeye dan kroninya. Setiap ada kasus besar, pastilah muncul si burung hantu dengan aksi sok heroiknya (cuiihhh..!!!) setelah ini pastilah ada penggerebegan dimana2 dan pastinya kasus besar akan tenggelam, huekk…!! mau muntah rasanya dengan siklus sinetron yang selalu sama seperti ini. Kasus-teroris-kasus-teroris-kasus-teroris- … selalu seperti itu….

Dan saya memilih untuk bertawaqquf saja…

PS: saya sungguh tidak mengira postingan kedua saya harus bercerita tentang hal ini

Advertisements

2 thoughts on “Dhuaarr…!!

  1. sbagaimana yg sudah kukatakan.entah bagaimana membuka mata khalayak publik akan kebobrokan media2 (kaya) yang ada..sedih saat seluruh kawan mencak2 mengutuk aksi bom solo tanpa tau akar masalahnya lebih dulu.karena memang media mempublish nya dg terlalu lebay.pelaku masih tanda tanya,tapi opini sudah digiring kemana2.. pemirsanya???ya mrasa emosi..kebakaran jenggot. tanpa mereka tahu sekejam apa peristiwa di ambon lalu…ya, karena mereka hanya berkomentar sesuai dengan yg di beritakan media.

  2. Yang buat saya gondok itu, orang yang senantiasa menyatakan diri sebagai pengikut manhaj salaf ramai dengan bahasan haramnya bunuh diri.. Sebaiknya mereka tetap pada itsbal dan jenggot, ga usah ikut-ikutan bahas masalah aqidah kalau berwala’ pada thoghut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s