Syaukah Nikayah Menuju Tamkin

Pertama-tama haruslah kita pahami bahwa kemenangan besar itu merupakan kumpulan dari sederet kemenangan-kemenangan kecil. Tak mungkin suatu kemenangan dan kekalahan terjadi dalam sekali ledakan lagi mendadak, mengejutkan pihak yang menang ataupun yang kalah. Oleh karena kejayaan besar yang tidak diawali dengan kemenangan-kemenangan kecil sebelumnya, hanyalah ada dalam pikiran para Syaikh dan para pemimpin kita. Sesungguhnya dalam setiap perkataan mereka, mereka mengusung fikroh/wacana “Menyusun kekuatan pemukul yang bisa disiapkan secara utuh dan lengkap serta jauh dari pengamatan lawan”.

Dengan serangan tiba-tiba dan mengejutkan ini, kita bisa mengalahkan lawan. Dan dengan cara ini kita bisa menghindari jatuhnya banyak korban, baik darah yang akan tumpah maupun jiwa yang akan melayang. Sementara Syaikh-Syaikh kita, sering mendengang-dengungkan fikroh ini. Di bawah panduannya, mereka menarik diri dari konfrontasi (dengan kekafiran) di bawah syiar tarbiyah dan i’dad. Fikroh ini, mendapat reaksi pro dan kontra dalam diri seseorang, oleh karena ia kelihatan bagus sekali, elok sekali dan seindah bunga mawar. Kendati demikian ia sangat rapuh.

Adapun keadaannya yang kelihatan elok dan seindah bunga mawar, maka bagaimana tidak kelihatan demikian, kalau ia menawarkan kemenangan kepada orang-orang Islam kemuliaan dan kekuasaan di atas talam bunga mawar. Kemudian bagaimana tak seindah bunga mawar, kalau ia adalah ilusi bikinan para pemimpi. Impian itu, ketika bercampur dengan kenyataan dalam benak pikiran seseorang, maka ia tidak bisa didebat dengan bantahan orang-orang berakal dan orang-orang pandai.

Sesungguhnya kita bermimpi terlampau amat tinggi untuk dapat menyusun kekuatan guna mewujudkan tamkiin (kekuasaan) tanpa melalui Syaukah Nikaayah (kekuatan yang memaksa dan mengalahkan). Syaukah Nikaayah adalah kekuatan yang terjadi di dalamnya “Jika kalian menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula, sebagaimana kalian menderita kesakitan” (QS. An Nisaa’ 104) dan terjadi pula di dalamnya “Mereka berperang di jalan Alloh, lalu mereka membunuh dan dibunuh” (QS. At Taubah 111). Fikroh ini, di samping tak mungkin terjadi, maka tak dapat diragukan lagi bahwa ia akan memunculkan fiqh yang tidak lurus dan hukum-hukum yang tidak benar. Dan tiadalah kita mendengar fiqh dari Syaikh-Syaikh kita tentang bolehnya ikut dalam sistem multi partai (demokrasi), bolehnya melakukan rotasi kekuasaan, tidak bolehnya melakukan jihad ofensif, dan bolehnya mengangkat orang-orang kafir dalam jabatan-jabatan politik, militer dan kehakiman di Negara Islam, melainkan disebabkan oleh impian rusak yang timbul karena “dyspepsia” (salah cerna). Faktor penyebabnya adalah tercampur aduknya pemikiran-pemikiran yang tidak sejenis.

Adapun penjelasannya ialah: Sesungguhnya realitas yang menimpa kita disebabkan faktor-faktor bangunan syaithoni di dalamnya, telah penuh dengan kejahatan segenap sisi-sisinya dan telah menimpakan kegagalan terhadap cita-cita Islam. Lalu ketika datang seorang Syaikh untuk menangani realitas ini dengan pola pemikiran yang lebih menonjolkan hukum-hukum fiqh, maka sesungguhnya cara penanganan seperti ini akan membuat dia melepaskan diri dari banyak (pendapat-pendapat radikal golongan salaf, demikian ia menyebutnya) kepada pendapat-pendapat lunak golongan kholaf (yang moderat, demikian ia menyebutnya). Itu karena ia tidak dapat mewujudkan tamkiin tanpa menyiapkan area wilayah yang tepat untuknya. Penyiapan ini tidak akan terjadi kecuali melalui Syaukah Nikaayah.

Oleh karena ketika kita sampai pada tamkiin melalui proses nikaayah, berarti kita, berkat karunia Alloh SWT, telah membersihkan jalan dari seluruh kotoran-kotoran dan sampah-sampahnya (bukan hanya seluruh kotoran dan sampah, bahkan pentolan-pentolannya sekaligus Insya Alloh SWT) dengan Syaukah Nikaayah yang berulang-ulang. Kebenaran akan tumbuh berkembang dan mengakar di dalam diri kita, dan akan lenyap bau busuk berbagai ide pemikiran yang rusak. Dan akan berurat berakar rasa benci kita terhadap kebathilan dan rasa benci kebathilan terhadap diri kita.

Dengan Syaukah Nikaayah, kita akan memetik kepala-kepala yang telah tiba masa petiknya. Dan kita tidak siap (sama sekali) untuk berdebat dengan seorang sophis (yang pandai memutar balikkan kata), yang tersebar dari mulutnya bau nafsu dan kesyirikan. Dan kita tidak siap (selamanya) untuk berdiskusi, di mana lawan-lawan kita menampakkan senyuman pada kita sehingga kita menaruh persangkaan baik kepada mereka, lalu persangkaan baik ini mendorong kita untuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang Alloh tidak menurunkan hujjah atasnya. Dan kita tidak siap (selagi kita menjalankan Syaukah Nikaayah) untuk melakukan koalisi-koalisi syirik dan bathil.

Melalui Syaukah Nikaayah, Alloh mengambil sebagian di antara kita sebagai syuhada’, sehingga naiklah lingkaran Jama’ah mujahid dalam kolom kebenaran, kecintaan kepada Alloh dan kepada Rosul serta pengingkaran mereka terhadap orang-orang musyrik.

Melalui Syaukah Nikaayah, kita belajar tidak jijik dan takut pada darah, kita belajar memupuk keahlian menyembelih dan keahlian menyerang benteng-benteng musuh.

Melalui Syaukah Nikaayah, kita belajar bersabar atas hilangnya orang-orang yang kita cintai dan kita digembleng untuk mengorbankan nyawa demi membela agama ini.

Melalui Syaukah Nikaayah, kita membersihkan diri menggembleng mental.

Melalui Syaukah Nikaayah kita menyiapkan orang-orang yang masih tersisa di antara kita untuk menduduki posisi-posisi kementerian!!

Jika kita sampai pada tamkiin melalui Syaukah Nikaayah, maka kita sekali-kali tak akan dapat dipaksa untuk memaklumatkan perang terhadap tetangga-tetangga negeri kita, oleh karena kita selalu berada dalam kondisi perang yang sesungguhnya, jadi tak perlu lagi maklumat perang di dalamnya.

Jika kita sampai pada tamkiin melalui Syaukah Nikaayah, maka sekali-kali kita tidak akan dapat dipaksa menghormati gagasan dan pendapat mengenai ta’addud as siyaasiyah (pluralitas politik) ataupun partai-partai lain, oleh karena ia sudah tak ada lagi wujudnya. Kita telah menguburnya dengan debu atau kita ceburkan ia di Sumur Badar.

Apabila kita sampai pada tamkiin melalui Syaukah Nikaayah yang berulang-ulang, maka sekali-kali figur pemimpin kita tidak akan pernah diduduki oleh lelaki pengecut, pengkhianat ataupun antek kaki tangan musuh, oleh karena pemimpin pengecut, pengkhianat dan antek kaki tangan musuh adalah pemimpin yang datang pada kita dari kegelapan, kita belum mengujinya dan dia belum menguji kita. Yakni, dia datang pada kita dari balik kantor yang empuk bukan dari balik kobaran api peperangan.

Sampai pada tamkiin melalui Syaukah Nikaayah yang berulang-ulang, tidaklah menjadikan cita-cita kita adalah membuat senang manusia dengan memberikan jaminan tempat tinggal, roti dan lapangan kerja untuk mereka. Kita tak perlu mencari keridhoan mereka terhadap siapa yang akan memerintah dan atau dengan apa ia memerintah? Yang akan memerintah mereka adalah pemimpin kita, baik mereka suka ataupun tidak. Kita akan memerintah mereka dengan Islam, dan siapa yang mengangkat kepalanya (menentang), maka akan kita tebas lehernya, oleh karena tamkiin sampai kepada kita adalah dengan karunia Alloh saja. Kita tak akan ambil pusing terhadap apapun kecuali hanya keridhoan Alloh belaka. Kita kerjakan apa yang Dia perintahkan dan kita tinggalkan apa yang Dia larang, meskipun manusia tidak menyukainya. Robb kita adalah Sesembahan kita dan kecintaan kita, Yang memberi pertolongan pada kita dari kelemahan, memberi pakaian kita dari ketertelanjangan, memberikan makan kita dari kemiskinan. Kita rebut senjata kita dari tangan musuh kita. Dan Kita tak akan membuat kesepakatan-kesepakatan dengan Timur dan Barat apabila kesepakatan itu harus mengorbankan dan melepaskan prinsip-prinsip kita. Dan kita tidak memperoleh kekuasaan dengan rekomendasi yang datang dari Gedung Putih atau Gedung Hitam, tapi dengan peribadatan kita kepada Alloh saja dan dengan baro’ah kita terhadap penguasa-penguasa thoghut di muka dunia.

Dari “Al Jihad wal Ijtihad Ta’amulat fil Manhaj” karya Syaikhuna Abu Qotadah Al-Filisthini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s